Yang Kurindukan
Semua orang Islam merindukan kematiannya dalam keadaan khusnul khatimah. Tetapi seperti apa mati yang khusnul khatimah itu? Saya tidak tahu pasti jawabannya, meskipun secara kharfiah saya paham benar artinya. Secara sederhana saya mencoba merenung dan merefleksi pengalaman saya khususnya menjelang wafatnya ayahanda saya tercinta dan bapak mertua saya. Sederhana saja saya ingin hidup saya berakhir seperti mereka, meskipun saya tidak tahu apakah meninggalnya mereka itu masuk dalam kategori yang disebut ‘khusnul khatimah’. Meskipun saya tidak tahu apakah kematian mereka masuk dalam kategori khusnul khatimah atau tidak, tetapi kematian seperti merekalah yang saya rindukan.
Ayah saya meninggal lebih dari empat tahun yang lalu. Kata Pak Kayim (seorang yang sering mengurusi mayat) meninggalnya ayah saya terlihat ‘bagus’ berdasarkan pengamatan wajahnya sesaat setelah meninggal. Saya sendiri tidak menyaksikan detik-detik terakhir saat meninggalnya ayah saya, tetapi saya sempat melihat wajahnya sebelum dikubur. Apakah ‘bagus’ seperti yang dikatakan oleh Pak Kayim itu merupakan pertanda khusnul khatimah? Saya sekali lagi tidak tahu jawabannya. Tetapi yang pasti, ayahanda saya sebelum meninggal yang tidak didahului oleh penyakit yang kronis (malah tidak terlihat sakit sama sekali) baru saja menyelesaikan silaturahmi meminta maaf kepada seluruh tetangga yang kebetulan belum dijumpai di hari lebaran yang jatuh seminggu sebelum hari meninggalnya ayah saya. Pada pada pagi dan sore ayah saya sempat keliling menemui beberapa tetangga yang belum ketemu di hari lebaran dan meminta maaf. Ketika ayah saya meninggal pada malam harinya, hampir tidak ada orang di sekitarnya yang percaya karena mereka tahu bahwa ayah saya terlihat sehat, segar dan bugar. Kematiannya yang begitu mudah dan tidak ditandai sakit yang parah (hanya masuk angin) mungkin sesuai doa dan harapan ayah saya yang ketika hidupnya sering berharap bahwa kematiannya tidak memberatkan keluarga dan anak-anak khususnya dari segi keuangan keluarga. Dan saya juga berharap kematian saya nanti tidak merepotkan istri dan anak-anak saya serta keluarga saya.
Perihal meninggalnya bapak mertua saya yang sempat koma beberapa hari, juga didahului dengan meminta maaf khususnya kepada ibu mertua saya. Pada malam hari sebelum bapak mertua saya koma di pagi hari, dia menangis dan meminta maaf kepada ibu mertua saya dan sebelum tidur membaca bacaan dzikir lama sekali. Apakah ini juga merupakan tanda kematian yang khusnul khatimah? Saya tidak tahu, tetapi saya yakin mertua saya mengahiri kehidupannya dengan sangat baik karena menutup hidupnya dengan ingat kepada Allah. Perlu saya ceritakan, mertua saya yang meninggal pada hari Jum’at 14 Maret 2008 terkena stroke pada tahun 1998. Akibat dari stroke tersebut mertua saya bicaranya kurang jelas dan susah ditangkap, berjalannya pun terasa berat. Beberapa tahun sebelum meninggalnya, dia diberi kesempatan beribadah haji. Orang bilang, biasanya dalam ibadah haji orang berebut untuk bisa mencium hajar aswad. Almarhum bapak mertua saya yang badannya cukup besar dan kondisi tubuh yang sakit-sakitan karena stroke serta terlihat susah kalau berjalan, ternyata bisa mencium hajar aswad dengan mudahnya karena dia merasa dibawa dan dipapah oleh orang yang badannya besar sekali menuju hajar aswad (ini tentu berkat pertolongan Allah). Sepulang dari haji, bapak mertua saya meskipun terlihat biasa-biasa saja dan tidak banyak bicara karena strokenya ternyata perhatian kepada tetangga dan orang-orang yang kurang mampu sangat tinggi. Misalnya ketika ada tetangga yang tidak mampu mau membangun rumah, bapak mertua saya sampai menjual tanahnya untuk membantu sebagian hartanya buat mereka tanpa banyak diketahui banyak orang. Saya melihat sakit yang dialami bertahun-tahun sepertinya tidak pernah dikeluhkan karena memang dia tidak pernah mengeluh. Saya juga melihat ada hikmah yang bisa diambil dari almarhum dibalik penyakit stroke yang dialaminya. Stroke yang dialaminya mertua saya, tampaknya justru mengurangi dan mencegah mertua dari perbuatan dosa yang bisa disebabkan dari perkataan yang terucap dan menambah keimanannya karena dengan stroke tersebut menjadikannya banyak berdzikir ingat kepada Allah dan menjadikan hatinya bersih. Mungkin karena kebersihan hatinyalah yang mengantarkan kemudahan-kemudahan dalam selama menjalankan ibadah haji. Dan saya juga yakin hajinya adalah haji mabrur, jika dilihat dari bertambahnya kepekaan sosialnya setelah sepulang haji.
Mengenang kematian mereka, saya sering merenung apakah kematian saya nanti bisa seperti kematian mereka? Apakah sebelum mati nanti saya sempat meminta maaf pada istri dan anak-anak saya, keluarga dan sanak saudara, tetangga dan kerabat? Apakah kematian saya nanti akan merepotkan keluarga dan sanak saudara? Saya hanya berdoa, berharap dan merindukan hidup saya berakhir seperti almarhum Ayahnda tercinta dan bapak bertua saya. Jika sebelum mati, saya diberi kesempatan beribadah haji, maka saya merindukan ibadah haji yang seperti almarhum mertua saya yang ditandai dengan kepekaan sosial yang tinggi sepulang dari ibadah hajinya.
Sebagai penutup saya mohon maaf kepada para pembaca khususnya yang memberikan komentar dalam tulisan-tulisan yang disajikan di blog ini, sekiranya jawaban dari saya menyinggung perasaan pembaca. Semoga kita semua mengakhiri hidup ini dengan khusnul khatimah.
kusnadi said
sebelumnya saya mohon ma’af karena telah mengambil ( copy ) artikel-artikel yg ada di blog anda, saya mohon izinnya, saya merasa artikel tersebut sangat bermanfa’at. atas perhatiannya saya ucapkan terimakasih.
Ass. ww.
Silahkan dan sebarkan, semoga semua menjadi amal kebaikan kita semua. Amien.
Wass. ww
Ali
jatmikova said
amiin..semoga terwujud segala niat baik antum…
wawan said
amin
Ari said
Assalamu alaikum Wr Wb
karena Bapak telah mempersilahkan untuk menyebarkan tulisan Bapak, maka saya mohon maaf telah menyebarkan juga ke teman2 dan keluarga saya. Tks, semoga Bapak mendapatkan limpahan rahmat Allah. Amin.
ahmadramadlan said
Aamiin, menjadi harapan kita semua untuk meninggal dengan khusnul khatimah… Ijin share beberapa artikel untuk yang ada dan yang akan datang ya…