Searching for the truth … Read the Qur’an

Pentingnya Memperhatikan “SEBUAH PROSES” Dalam Beribadah

Posted by alisaid on 24 January 2012

Pentingnya Memperhatikan “SEBUAH PROSES” Dalam Beribadah

Oleh: Ali Said

Mengapa “proses” menjadi bagian penting dalam beribadah?  Tulisan yang dibuat dengan judul seperti di atas terutama ditujukan untuk mengingatkan diri penulis dan mudah-mudahan juga bermanfaat bagi pembaca. Tidak jarang dan bahkan sering di antara kita termasuk penulis merasa kurang memperhatikan “Sebuah Proses” dalam melakukan ibadah kepada Alloh SWT. Karena mengabaikan “proses” tersebut, ibadah yang dilakukan sering menjadi terasa hambar dan  kurang membekas di dalam hati.  Selama ini, melakukan ibadah seperti sholat, puasa, zakat, dan haji hanya sekedar menggugurkan kewajiban, sehingga ibadah yang telah dilakukan tidak memiliki dampak bagi kehidupan sehari-hari dalam arti tidak banyak atau bahkan tidak ada perubahan yang terjadi sebagai akibat dari menjalankan ibadah. Yang ada hanyalah menjalankan rutinitas saja.

Kita tahu ada hubungan antara INPUT dan OUTPUT. Hubungan antar keduanya dilalui melalui PROSES, seperti digambarkan sebagai berikut:

INPUT —> PROSES —-> OUTPUT

Misal, PUASA adalah INPUT dan TAQWA adalah OUTPUT dari puasa. Maka agar Puasa menghasilkan Taqwa harus melalui sebuah PROSES berpuasa.

Sesungguhnya dalam sejumlah ayat dalam Al Quran, meskipun kata “proses” tidak secara eksplisit disebutkan, dampak dari sebuah ibadah terhadap peningkatan kualitas manusia secara langsung dinyatakan dalam Al Quran dengan menggunakan kata-kata seperti “la’allakum” yang dapat diartikan dengan “mudah-mudahan” atau “semoga” atau “agar supaya”. Al Quran tidak menggunakan kata yang berarti “pasti”. Misalnya QS Al Baqarah 183 “Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu menjadi orang yang bertaqwa”.  Jelas  bahwa pernyataan yang digunakan adalah “agar kamu menjadi orang yang bertaqwa” BUKAN dengan peryataan “pasti kamu menjadi orang yang bertaqwa”.

Dari contoh ayat di atas, jelas kiranya bahwa seseorang akan menjadi orang yang bertaqwa kalau dalam menjalankan PROSES puasanya dengan baik dan benar. Jadi orang yang berpuasa tidak secara otomatis menjadi orang yang bertaqwa. Pentingnya PROSES ini mungkin akan sangat mudah dipahami dengan ilustrasi berikut:

Katakan ada 3 orang yang diminta untuk membuat sebuah kue (OUTPUT) dengan bahan dasar (resep) yang telah disiapkan sebagai INPUT dan masing-masing orang boleh menambahkan resep tambahan untuk pembuatan kue tersebut. Orang I adalah seorang Chef (ahli memasak), Orang II adalah hanya bisa masak ala kadarnya, dan Orang III adalah orang yang belum pernah memasak. Tentunya kita bisa langsung menilai masakan orang mana yang selain jadi kue yang diharapkan rasanya juga enak dan kita bisa langsung menebak Orang I. Mengapa? Orang I mengetahui bagaimana cara membuat kue yang enak dan tentunya bisa menambahkan bahan-bahan lain akan kue yang dibuatnya akan terasa lebih enak dari hanya berdasarkan bahan dasar yang ada. Orang II mungkin bisa membuat kue yang diharapkan tetapi rasanya tidak bisa dijamin enak. Orang III kemungkinan besar kuenya kurang enak atau bahkan tidak jadi kue yang diharapkan karena tidak mengetahui cara atau proses pembuatannya.

Analog di atas jika diterapkan pada perintah puasa, maka Orang I adalah orang yang memiliki pengetahuan/ilmu bagaimana melaksanakan puasa yang baik dan benar dan mengetahui apa saja yang seharusnya dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan serta mengetahui amalan-amalan yang dapat meningkatkan kualitas puasanya. Orang dalam kelompok ini tentunya akan menjalani proses puasa dengan kualitas yang baik. Kelompok ini merupakan kelompok “khushushul Khushush” atau sangat-sangat khusus seperti yang sering diceritakan pada da’i. Orang II dapat diibaratkan sebagai orang yang hanya tahu apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Ibdah puasa yang dijalani mungkin diterima Alloh karena sesuai dengan syariat, tetapi kualitas puasanya mungkin tidak sama dengan Orang I. Orang III diibaratkan orang yang tiak mengetahui ilmunya berpuasa dan apa yang dia dapatkan hanyalah lapar dan haus.

Dari analog di atas jelas bahwa ketaqwaan hanya dapat dicapai seseorang jika proses ibadah yang dijalaninya dilakukan dengan baik dan benar, meskipun kategori Orang I dan Orang II juga mungkin bisa jadi gagal dalam membuat kue karena tergelincir oleh hal-hal yang di luar dugaan dan sama halnya godaan syetan yang bisa menggelincirkan siapapun dalam beribadah.

Hal serupa juga dapat diterapkan pada ibadah sholat. Sejauhmana sholat yang kita laksanakan mampu mencegah perbuatan keji dan mungkar seperti yang dinayatakan dalam  Al Quran bahwa “sesungguhnya sholat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar”. Itu sangat tergantung bagaimana kita melaksanakan sholat. Apakah proses yang dilakukan sudah baik dan benar? Atau karena saking hafalnya bacaan sholat, kita bisa dengan cepat menyelesaikan sholatnya tanpa pernah tahu apa yang kita ucapkan dalam sholat seperti orang mabuk melaksanakan sholat dan tidak pernah meresapi bacaan yang ada dalam sholat. Jika sholat seperti itu yang dilakukan, maka jelas bahwa sholat yang dilakukan tidak dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar.

Begitupun ibadah haji yang dilakukan. Sudah biaya mahal yang harus dikeluarkan tetapi proses ibadah haji tidak dijalaninya dengan baik, sungguh bisa menjadi sia-sia ibadah haji yang dikerjakan. Alhamdulillah begitu banyak “ibroh” atau pelajaran yang bisa diambil penulis ketika menjalankan ibadah haji. Banyak sekali jamaah yang hanya sekedar menyelesaikan syarat dan rukun haji tetapi melupakan proses selama ibadah haji itu sendiri. Misalnya, ada jamaah yang sedang antri Kamar Mandi/WC saking lamanya menunggu dia marah dan mengumpat sampai mengatakan “sedang mandi kembang kali” (astaghfirullah, na’udzubillah min dzaalik). Dan masih banyak lagi hal-hal yang tidak sepantasnya diucapkan bagi seorang yang sedang menjalani ibadah haji di tanah suci.

Kesimpulannya, marilah kita perhatikan apakah ibadah yang kita lakukan  telah dijalankan dengan melalui proses yang benar atau hanya sekedar menggugurkan kewajiban. Untuk dapat menjalani proses ibadah yang baik dalam rangka mencapai derajat taqwa tentunya diperlukan ilmu atau pengetahuan tentang berbagai hal terkait masalah ibadah. Semoga ibadah yang kita lakukan tidak sia-sia dan diterima oleh Alloh SWT. Amiien.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: